Tradisi Gembala Kambing (Batawiti)

Penulis: Farhatun Mufrodah, 09 February 2026
image
batawiti

Bata Witi merupakan tradisi penggembalaan kambing yang telah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Lamawolo dan berpusat di Bukit Mohe. Bukit Mohe menjadi tempat penggembalaan kambing berawal dari kisah hubungan Lea dan Niran. Niran berasal dari Lewotolok (Ile Ape), sementara Lea berasal dari Lamawolo. Hubungan mereka yang awalnya dianggap sebagai hubungan kekeluargaan kemudian melahirkan keturunan yang menjadi asal-usul marga tuan tanah Lamawolo, yaitu Demonloku dan Poilado.

Sebagai bentuk ikatan kekeluargaan antara Lamawolo dan Lewotolok, masyarakat Lewotolok menyerahkan sepasang kambing kepada Lamawolo untuk dipelihara. Seiring waktu, kambing-kambing tersebut berkembang biak dan digembalakan secara bebas di kawasan Bukit Mohe.

Dalam pelaksanaan Bata Witi, para pemilik ternak bersama-sama naik ke bukit untuk memanggil kambing dengan teriakan khas. Proses pemanggilan ini memakan waktu cukup lama dan membutuhkan keterlibatan banyak orang, karena kambing tersebar di area perbukitan yang luas. Setelah seluruh kambing berhasil dikumpulkan di bagian atas bukit, kambing-kambing digiring secara bersama-sama menuju kaki Bukit Mohe, tepatnya ke kandang Tua Bolo. Di tempat ini, setiap pemilik mengecek, mengenali, dan menandai ternaknya masing-masing, sebelum kambing dilepas kembali ke area penggembalaan. Setelah kambing berada di kandang, mereka biasanya dilaksanakan prosesi adat terlebih dahulu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.


Tradisi Bata Witi dilakukan secara rutin dan dikelola oleh kelompok Bata Witi Desa Lamawolo. Hingga kini, tradisi ini tetap dilestarikan oleh generasi muda sebagai warisan budaya leluhur serta menjadi identitas Desa Lamawolo sebagai penghasil kambing dengan slogan “Lamawolo Witi Lewun.”